Pendeta Bukhoro: Rahib Kristen yang Mengenali Ciri-Ciri Kenabian Muhammad SAW
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, terdapat sebuah peristiwa unik dan penuh hikmah yang melibatkan seorang pendeta atau rahib Kristen yang bernama Bukhoro (dalam sumber Islam lebih dikenal dengan nama Bahira atau Buhaira). Kisah ini, yang diriwayatkan dalam berbagai sirah (biografi) Nabi, bukan hanya sekadar dongeng, tetapi menjadi salah satu tanda-tanda awal akan datangnya seorang Nabi akhir zaman yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab sebelumnya.
Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 582 Masehi, ketika Muhammad masih berusia 12 tahun. Saat itu, beliau diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang ke Syam (wilayah yang kini meliputi Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon). Kafilah Quraisy yang membawa barang dagangan pun berhenti di dekat tempat tinggal seorang pendeta di kota Busra.
Pendeta tersebut bernama Jirjis atau Sergius, namun lebih masyhur dengan panggilan Bukhoro atau Bahira. Ia adalah seorang rahib yang dikenal alim dan memiliki pengetahuan mendalam tentang kitab-kitab Injil dan nubuat-nubuat tentang datangnya nabi terakhir.
Tanda yang Dikenali Pendeta Bukhoro
Menurut berbagai riwayat, Pendeta Bukhoro bukanlah orang yang biasanya menyambut kafilah yang lewat. Namun, pada hari itu, sesuatu yang luar biasa membuatnya keluar dari selnya dan mengundang seluruh kafilah untuk makan.
Apa yang membuatnya melakukan hal itu?
Pengamatan terhadap Alam: Ia melihat ada tanda-tanda aneh di alam. Sebuah awan kecil tampak memayungi dan bergerak mengikuti perjalanan seorang anak tertentu dari kafilah tersebut, melindunginya dari terik matahari.
Pelajaran dari Kitab Suci: Bukhoro adalah seorang ahli kitab yang telah mempelajari nubuat tentang datangnya seorang nabi dari tanah Arab (Jazirah Arab). Nubuat tersebut antara lain menyebutkan tentang tempat kelahirannya (Mekkah), ciri-ciri fisik, dan bahwa ia akan datang dari keturunan Ismail.
Ciri-Ciri Fisik Kenabian (Khashais an-Nubuwwah): Ketika seluruh kafilah datang, Bukhoro mengamati dengan saksama setiap orang. Ia melihat bahwa awan itu berhenti memayungi tepat di atas pohon di mana anak muda itu berteduh. Pohon itu pun merundukkan dahannya sebagai bentuk penghormatan.
Hal yang paling meyakinkannya adalah ketika ia memeriksa bagian punggung anak muda tersebut. Di antara kedua bahunya, ia menemukan stempel kenabian (Khatam an-Nubuwwah) sebuah tanda fisik berupa tonjolan daging sebesar telur burung merpati yang menurut nubuat merupakan tanda pasti dari nabi yang ditunggu.
Percakapan antara Bukhoro dan Abu Thalib
Kemudian, Bukhoro menjelaskan hakikat yang sebenarnya, “Ini adalah saudaramu. Aku melihat ada tanda kenabian padanya. Dan ini adalah Nabi terakhir yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab kami.”
Ia pun memberikan nasihat yang sangat berharga, “Bawalah dia pulang dan lindungilah dia dari orang-orang Yahudi. Karena, jika mereka yang melihat dan mengenalinya seperti yang aku lakukan, mereka akan berusaha mencelakakannya.”
Nasihat ini menunjukkan bahwa Bukhoro mengetahui betul bahwa ada pihak-pihak yang juga menunggu nabi tersebut, tetapi dengan niat yang tidak baik.
Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Ini
Kisah Pendeta Bukhoro mengandung banyak hikmah yang mendalam, antara lain:
Pengakuan dari Ahli Kitab: Peristiwa ini menjadi bukti awal bahwa kedatangan Nabi Muhammad SAW telah dinubuatkan dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur'an (Taurat dan Injil). Pengakuan seorang rahib yang shalih dan berilmu seperti Bukhoro memperkuat kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
Perlindungan Allah (As-Sunnatu Ilahiyyah): Sejak kecil, Allah SWT telah melindungi dan mempersiapkan Muhammad untuk menjadi Rasul-Nya. Perlindungan awan dan nasihat Bukhoro kepada Abu Thalib adalah bentuk nyata dari perlindungan Allah tersebut.
Tanda Kebesaran Allah: Ciri-ciri kenabian yang tertulis dalam kitab-kitab lama dan terbukti pada diri Muhammad adalah tanda kebesaran Allah dan kesatuan risalah dari para nabi.
Kewaspadaan terhadap Musuh: Nasihat Bukhoro untuk waspada terhadap orang-orang Yahudi yang mungkin akan berbuat jahat menunjukkan bahwa kebenaran seringkali menghadapi tantangan dan permusuhan.
Kisah Pendeta Bukhoro (Bahira) bukanlah sekadar fragmen sejarah yang pasif, melainkan sebuah pengakuan ilmiah dan spiritual dari seorang ahli kitab yang jujur dan objektif. Ia membaca tanda-tanda di kitab sucinya dan membuktikannya secara langsung pada sosok Muhammad yang masih belia. Peristiwa ini menjadi salah satu mata rantai bukti yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah yang dijanjikan, tidak hanya untuk bangsa Arab, tetapi untuk seluruh alam semesta. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu mencari kebenaran dengan ilmu dan hati yang terbuka, sebagaimana yang dicontohkan oleh Pendeta Bukhoro. ( Jagatraya )
0 Komentar