JAGATRAYA

https://www.instagram.com/ahmadnurshodik/?hl=en

JAGATRAYA

Fase Kritis Ramadhan: Antara Perjuangan Bebas dari Neraka dan Godaan Gemerlap Dunia

 

Fase Kritis Ramadhan: Antara Perjuangan Bebas dari Neraka dan Godaan Gemerlap Dunia

Oleh : Nurjanah, S.Pd.I

Bulan Ramadhan telah memasuki babak akhir. Sepuluh hari terakhir yang dinanti-nantikan oleh para perindu akhirat akhirnya tiba. Ini adalah fase yang oleh Rasulullah SAW diistilahkan sebagai itqun minan naar, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Di momen inilah seorang mukmin digembleng untuk meraih puncak ampunan dan rahmat Allah SWT.

Namun, ironisnya, di saat jiwa seharusnya semakin 'menajam' menuju Allah, justru di sinilah letak tantangan terberat itu muncul. Godaan tidak datang dalam bentuk maksiat yang kasat mata, melainkan dalam balutan yang indah: persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Pasar mulai ramai, toko-toko memajang pakaian terbaru, dan aroma kue kering mulai tercium dari dapur-dapur rumah. Tanpa disadari, kita seringkali terbuai dan alih fokus, dari Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, bergeser ke hiruk-pikuk 'seribu baju' dan 'seribu menu' untuk lebaran.

Kemuliaan 10 Hari Terakhir yang Tak Tergantikan

Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah panggung utama bagi para pencari ampunan. Di sinilah terdapat malam yang kemuliaannya melampaui ribuan bulan, yaitu Lailatul Qadar. Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadan" (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah waktu di mana pintu langit terbuka lebar, doa-doa mustajab, dan para malaikat turun ke bumi membawa kedamaian. Amalan di dalamnya nilainya lebih baik dari amalan selama 83 tahun. Lalu, bagaimana mungkin kita melewatkan momen agung ini hanya untuk sibuk memikirkan model baju apa yang akan dikenakan saat salat Id?

Tantangan Berat: Godaan Persiapan Duniawi

Godaan terbesar di fase ini adalah 'distraksi syahwat' yang terbungkus rapi. Setelah sebulan penuh kita berlatih menahan lapar, haus, dan syahwat, setan seolah menggunakan 'taktik baru' dengan membisikkan bahwa sekaranglah waktunya bersenang-senang dan bersiap-siap.

  1. Godaan Belanja (Hedonisme): Menjelang Idul Fitri, budaya konsumtif merajalela. Fokus bergeser dari tadarus Al-Qur'an menjadi "tadarus" katalog toko online. Waktu yang seharusnya diisi dengan iktikaf dan zikir, terkikis oleh waktu belanja yang berlebihan. Padahal, inti Idul Fitri adalah kembali ke fitrah, kesucian, dan kesederhanaan, bukan gemerlap pakaian baru.

  2. Godaan Masak-memasak (Kuliner): Bagi banyak orang, khususnya para ibu rumah tangga, sepuluh hari terakhir seringkali menjadi ajang marathon memasak. Mulai dari membuat nastar, kastengel, hingga rendang untuk hidangan Lebaran. Akibatnya, badan lelah, pikiran terpecah, dan yang paling disayangkan adalah waktu-waktu mustajab di sepertiga malam terlewatkan karena kelelahan setelah seharian di dapur.

  3. Godaan Rencana Mudik: Antisipasi bertemu keluarga dan kampung halaman juga bisa mengganggu konsentrasi ibadah. Pikiran sudah terbang jauh ke perjalanan, transportasi, dan oleh-oleh, sehingga hati tidak lagi present (hadir) saat bermunajat kepada Allah di penghujung Ramadan.

Menjaga Fokus: Perjuangan Kelas Berat

Menghadapi godaan ini butuh kesadaran dan perjuangan kelas berat. Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut dalam hadis, "Celakalah seorang hamba yang memasuki Ramadan lalu keluar darinya tanpa diampuni dosa-dosanya" (HR. Ahmad). Naudzubillah.

Ini adalah momentum untuk mengecek ulang prioritas kita:

  • Mana yang Lebih Penting? Antara meraih pahala ibadah 83 tahun di Lailatul Qadar, atau mendapatkan pujian karena baju Lebaran yang modelnya terbaru?

  • Mana yang Lebih Indah? Antara kebahagiaan bertemu Allah dalam munajat di sepertiga malam, atau kebahagiaan sesaat melihat kue kering yang matang sempurna?

Tentu tidak ada larangan untuk berbahagia menyambut Idul Fitri. Islam adalah agama yang indah dan memberikan kelapangan. Kita diperbolehkan bergembira, memakai pakaian terbaik, dan menyediakan hidangan lezat. Namun, waktu dan porsinya haruslah tepat.

Jika kita bisa mengatur waktu, berbelanja atau memasak jauh-jauh hari sebelum masuk 10 hari terakhir, lakukanlah. Jika terpaksa dilakukan di waktu ini, maka utamakan ibadah di malam hari. Ingat, para istri dan ibu di zaman Rasulullah SAW pun tetap mampu mengurus rumah tangga sambil meraih kemuliaan Ramadan.

Meraih Dua Kebahagiaan

Sebagai hamba yang berakal, kita bisa meraih dua kebahagiaan sekaligus: kebahagiaan ukhrawi dan duniawi. Kebahagiaan ukhrawi kita raih dengan memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir, berjuang keras melawan kantuk dan lelah untuk meraih predikat takwa dan pembebasan dari api neraka.

Kebahagiaan duniawi akan terasa sempurna nantinya, saat hari raya tiba, dengan hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan dosa yang telah diampuni. Maka, berpakaian indah dan menikmati hidangan lezat setelah diampuni dosa, jauh lebih bermakna daripada berpakaian indah tetapi hati masih lalai dari rahmat-Nya.

Jangan biarkan gemerlap dunia menjelang Idul Fitri mengalahkan gemerlapnya cahaya Lailatul Qadar. Fokuslah pada pertarungan sesungguhnya di sepuluh malam ini. Karena sejatinya, itulah kemenangan yang hakiki.

Posting Komentar

0 Komentar