ISRA’ MI’RAJ: SUBSTANSI PERJALANAN NABI MUHAMMAD SAW MENEMBUS LANGIT
Peristiwa Luar Biasa dalam Sejarah Islam
Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dan penuh mukjizat dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini menggambarkan perjalanan spiritual yang sangat dalam, sekaligus menjadi ujian keimanan bagi kaum Muslimin saat itu. Secara harfiah, Isra’ berarti “perjalanan di malam hari”, merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan Mi’raj berarti “naik” atau “alat untuk naik”, yang menggambarkan perjalanan vertikal Nabi dari Baitul Maqdis menembus lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha, bahkan lebih tinggi lagi untuk menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT.
Waktu Kejadian: Mengungkap Tanggal dan Tahun
Para ulama dan sejarawan berbeda pendapat mengenai tanggal pasti Isra’ Mi’raj. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian (620 M), atau setahun sebelum Hijrah ke Madinah (622 M). Tahun ini dikenal sebagai ‘Am al-Huzn (Tahun Kesedihan), karena Nabi baru saja ditinggal wafat oleh sang istri tercinta, Khadijah RA, dan pamannya, Abu Thalib, yang menjadi pelindungnya.
Secara lebih spesifik, ada beberapa pendapat tentang bulan dan tanggalnya:
Pendapat paling masyhur menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab. Inilah yang diyakini oleh banyak ulama dan diperingati oleh sebagian besar umat Islam di dunia.
Pendapat lain menyebutkan bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Syawal, Dzulqa’dah, atau Ramadhan.
Terdapat juga riwayat yang menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam Senin, 17 Ramadhan, atau 17 Rabiul Awal.
Meski terdapat variasi dalam penanggalan, substansi dan makna peristiwa ini jauh lebih penting untuk dipahami dan diimani. Konsensus utama adalah bahwa peristiwa ini terjadi pada masa sulit dakwah Nabi SAW, sebagai bentuk penghiburan dan penguatan dari Allah SWT.
Rangkaian Peristiwa Isra’ Mi’raj
1. Persiapan dan Awal Perjalanan (Isra’)
Sebelum perjalanan dimulai, dada Nabi Muhammad SAW dibersihkan oleh Malaikat Jibril dengan air zam-zam. Kemudian, Nabi didatangi Buraq, hewan berwarna putih, berukuran lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bagal, yang dapat melangkah sejauh pandangan mata. Bersama Jibril, Nabi SAW menunggangi Buraq menuju Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) dari Masjidil Haram. Dalam perjalanan horizontal ini, Nabi diperlihatkan beberapa tanda kebesaran Allah dan singgah di beberapa tempat untuk salat.
2. Shalat Bersama Para Nabi di Baitul Maqdis
Sesampainya di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad SAW menjadi imam shalat dua rakaat bersama para nabi dan rasul sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya. Hal ini menjadi simbol bahwa Nabi Muhammad adalah pemimpin dan penutup para nabi (Khatamul Anbiya).
3. Mi’raj: Menembus Tujuh Lapisan Langit
Dari Baitul Maqdis, dimulailah perjalanan vertikal (Mi’raj). Nabi Muhammad SAW didampingi malaikat Jibril menaiki langit lapis demi lapis:
Langit Pertama: Bertemu Nabi Adam AS.
Langit Kedua: Bertemu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.
Langit Ketiga: Bertemu Nabi Yusuf AS.
Langit Keempat: Bertemu Nabi Idris AS.
Langit Kelima: Bertemu Nabi Harun AS.
Langit Keenam: Bertemu Nabi Musa AS.
Langit Ketujuh: Bertemu Nabi Ibrahim AS.
Di setiap pertemuan, terjadi dialog penuh hikmah. Nabi Musa AS, misalnya, dikenal banyak memberi nasihat kepada Nabi Muhammad SAW selama perjalanan ini.
4. Melampaui Sidratul Muntaha
Setelah melewati langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha sebuah tempat di atas langit ketujuh yang menjadi batas akhir ilmu semua makhluk. Daun-daunnya sebesar telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Di sinilah Jibril berhenti dan berkata, “Wahai Muhammad, aku tidak mampu melampaui tempat ini. Jika aku melangkah lebih jauh, pasti aku akan terbakar.” Nabi kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri ke hadirat Allah SWT.
5. Perintah Shalat Lima Waktu
Dalam perjumpaan agung dengan Allah SWT di suatu tempat yang disebut al-Mustawa, Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung untuk menunaikan shalat 50 waktu dalam sehari semalam. Dalam perjalanan turun, Nabi Musa AS menasihati Nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan (pengurangan) kepada Allah, karena umatnya tidak akan mampu. Setelah bolak-balik memohon keringanan sebanyak sembilan kali (atas saran Nabi Musa), akhirnya Allah Yang Maha Pengasih menetapkan kewajiban shalat menjadi lima waktu dalam sehari semalam. Meski jumlahnya dikurangi, pahala satu shalat tetap dihitung seperti mengerjakan 50 kali shalat. Inilah mahkota dan inti dari perjalanan Isra’ Mi’raj.
6. Kembali ke Mekkah
Setelah menerima perintah shalat, Nabi Muhammad SAW turun kembali ke Baitul Maqdis, lalu kembali dengan Buraq ke Mekkah, semua terjadi dalam satu malam.
Bukti dan Reaksi: Ujian Keimanan
Keesokan harinya, Nabi menceritakan peristiwa ini kepada kaum Quraisy. Banyak yang menganggapnya mustahil, terutama soal perjalanan ke Baitul Maqdis dalam satu malam. Mereka meminta bukti. Atas petunjuk Jibril, Nabi SAW menggambarkan dengan rinci tentang kafilah dagang Quraisy yang sedang dalam perjalanan pulang ke Mekkah, termasuk ciri-ciri untanya. Ketika kafilah itu tiba sesuai dengan gambaran Nabi, hal itu membuktikan kebenaran ucapan Beliau. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, dengan keimanan teguhnya, langsung membenarkan tanpa ragu, sehingga beliau dijuluki As-Siddiq (yang membenarkan).
Makna dan Hikmah Isra’ Mi’raj
Pengukuhan Kenabian: Peristiwa ini adalah bentuk penghormatan dan penguatan dari Allah kepada Rasul-Nya di tengah kesedihan dan cobaan berat.
Penegasan Spiritualitas: Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa hakikat perjalanan seorang hamba adalah menuju Tuhan, melampaui batas fisik dan ruang.
Hadiah Terbesar: Salat. Kewajiban shalat yang diterima secara langsung, tanpa perantara, menunjukkan kedudukan shalat sebagai tiang agama (imaduddin) dan mi’raj-nya orang beriman. Shalat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dan Rabbnya.
Persatuan Umat Para Nabi: Shalatnya Nabi Muhammad sebagai imam bagi para nabi menegaskan kesatuan risalah langit dan bahwa syariat Beliau adalah penyempurna.
Ujian Keimanan: Peristiwa ini memisahkan dengan tegas antara keimanan sejati dan keraguan.
Pelajaran Abadi bagi Umat Islam
Isra’ Mi’raj bukan sekadar cerita sejarah, tetapi pelajaran abadi tentang kekuasaan Allah yang mutlak, pentingnya ketabahan dalam dakwah, dan keistimewaan salat sebagai penghubung spiritual. Peristiwa ini mengajarkan kita untuk senantiasa mengarah ke atas (spiritualitas, akhlak, hubungan dengan Allah) sekaligus tidak melupakan bumi (dakwah, hubungan sosial, membangun peradaban), sebagaimana simbol perjalanan horizontal dan vertikal yang dilakukan Rasulullah SAW.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga kita dapat mengambil hikmah mendalam dari peristiwa agung ini dan senantiasa menjaga salat lima waktu sebagai warisan terindah dari perjalanan malam yang penuh berkah tersebut. - ( by. JAGATRAYA )
0 Komentar