Bulan yang Dirindukan: Mengapa Umat Islam Bergembira Menyambut Ramadhan
Oleh: Nurjanah, S.Pd.I
Dengan memahami berbagai kemuliaan bulan Ramadhan, menjadi sangat jelas mengapa Rasulullah ﷺ dan para sahabat begitu bergembira menyambut kedatangan Ramadhan. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa kegembiraan para salaf dalam menyambut Ramadhan bukan sekadar kegembiraan musiman, melainkan karena mereka memahami besarnya karunia Allah yang diberikan melalui bulan mulia ini .
Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai ladang keuntungan yang berlipat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Berbagai faktor pendukung untuk meraih pahala dan ampunan tersedia begitu melimpah: pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, setan dibelenggu, pahala dilipatgandakan, doa mustajab, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, wajar jika mereka yang memahami kemuliaan Ramadhan akan merasa sedih ketika bulan ini berlalu. Sebaliknya, mereka yang tidak memahami akan merasa biasa saja atau bahkan gembira karena beban ibadah "berkurang" .
Ramadhan bukan sekadar bulan biasa dalam penanggalan Islam. Ia adalah bulan yang dipilih oleh Allah untuk menurunkan Al-Qur'an, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, bulan di mana setan dibelenggu, bulan penuh ampunan, bulan dilipatgandakannya pahala, dan bulan yang menjadi penghulu segala bulan.
Dengan segala kemuliaan ini, sudah sepatutnya setiap muslim menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan memanfaatkan setiap detiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai kita termasuk golongan yang merugi, yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari puasanya, tanpa meraih ampunan dan pahala yang dijanjikan.
Mari kita sambut dan jalani Ramadhan dengan sebaik-baiknya, karena kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun yang akan datang. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dan menerima semua amal ibadah kita. Aamiin.
Di antara dua belas bulan dalam kalender Hijriyah, Ramadhan menempati posisi yang paling istimewa dan mulia. Bulan ini selalu dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia dengan penuh suka cita. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan, dan kepergiannya seringkali meninggalkan rasa haru serta kerinduan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Ramadhan adalah "bulan yang dirindukan" .
Namun, apa sebenarnya yang membuat Ramadhan begitu istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya? Mengapa Rasulullah ﷺ hingga para sahabat dan generasi salafusshalih begitu bergembira ketika Ramadhan tiba? Artikel ini akan mengupas tuntas kemuliaan Ramadhan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadits, serta pandangan para ulama.
Ramadhan: Penghulu Segala Bulan
Salah satu bukti paling jelas tentang kemuliaan Ramadhan adalah sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi:
"Penghulu segala bulan adalah Ramadhan, dan penghulu segala hari adalah Jumat."
Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa Ramadhan adalah sayyidus syuhur atau pemimpinnya bulan-bulan. Para ulama menjelaskan bahwa status sebagai "penghulu" ini menunjukkan keutamaan Ramadhan di atas bulan-bulan lainnya, termasuk di atas bulan Dzulhijjah yang juga memiliki kemuliaan karena ibadah haji. Dalam kitab Ittihaf Ahlul Islam bi Khususiyat ash-Shiyam, Imam Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan bahwa dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan bulan Dzulhijjah .
Bahkan dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ramadhan adalah bulan Allah. Keutamaannya dibanding bulan-bulan lain adalah bagaikan keutamaan Allah dibanding dengan makhluk-Nya."
Ungkapan ini semakin memperkuat kedudukan Ramadhan yang begitu agung di sisi Allah SWT. Lebih jauh lagi, beliau bersabda:
"Seandainya para hamba Allah mengetahui terhadap apa-apa yang ada dalam Ramadhan, maka umatku pasti berharap agar bulan ini tetap ada selama setahun penuh."
Adanya Malam Lailatul Qadar
Salah satu kemuliaan terbesar Ramadhan adalah keberadaan malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Para ulama menjelaskan bahwa beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih utama dan lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun 4 bulan tanpa malam tersebut . Ini adalah kemuliaan yang luar biasa, di mana Allah memberikan kesempatan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ yang umumnya berusia relatif pendek untuk meraih pahala ibadah selama puluhan tahun hanya dalam satu malam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya segala dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, Setan Dibelenggu
Keistimewaan lain yang secara khusus hanya terjadi di bulan Ramadhan adalah dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat..." (HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan lebih detail:
"Jika awal Ramadhan tiba, maka setan-setan dan jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu surga dibuka, dan tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan: 'Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah! Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah dirimu!' Pada setiap malam Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka." (HR. Tirmidzi)
Hadits ini memberikan kabar gembira bahwa di bulan Ramadhan, suasana spiritual menjadi sangat kondusif untuk beribadah. Godaan untuk berbuat maksiat berkurang karena setan dibelenggu, sementara motivasi untuk berbuat baik semakin besar karena pintu surga terbuka lebar .
Pengampunan Dosa-Dosa
Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan:
"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang." (HR. Ad-Daraquthni dari Ibnu Abbas)
Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ampunan dosa yang akan datang adalah janji Allah bahwa jika seorang hamba yang benar-benar berpuasa dengan iman dan pengharapan melakukan kesalahan di masa mendatang, maka dosa tersebut akan diampuni .
Selain itu, jarak antara satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya juga menjadi penebus dosa-dosa di antaranya. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jarak antara shalat lima waktu, shalat Jumat dengan Jumat berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-dosa yang ada di antaranya, apabila tidak melakukan dosa besar." (HR. Muslim)
0 Komentar