JAGATRAYA

https://www.instagram.com/ahmadnurshodik/?hl=en

JAGATRAYA

“Kun ‘Āliman”: Menjadi Pribadi yang Dekat dengan Ilmu


Hadis Nabi “Kun ‘Āliman”: Menjadi Pribadi yang Dekat dengan Ilmu

Dalam ajaran Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah membaca, “Iqra’”, yang menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas fondasi ilmu. Salah satu hadis yang sering dikutip dalam semangat menuntut ilmu adalah sabda Nabi:

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ

“Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan (ilmu), atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa.”

Makna Hadis “Kun ‘Āliman”

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap Muslim harus memiliki hubungan dengan ilmu dalam bentuk apa pun. Nabi ﷺ memberikan empat pilihan yang semuanya mulia:

1. ‘Āliman (Orang Berilmu)

Menjadi orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya. Seorang ‘alim bukan hanya tahu, tetapi juga membimbing dan memberi manfaat bagi orang lain. Derajat orang berilmu diangkat oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

2. Muta‘alliman (Orang yang Belajar)

Jika belum mampu menjadi orang berilmu, maka jadilah penuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”

Semangat belajar inilah yang membangun peradaban Islam di masa kejayaannya.

3. Mustami‘an (Pendengar Ilmu)

Mendengarkan majelis ilmu, ceramah, atau nasihat juga termasuk bagian dari mencari ilmu. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai proses belajar, bahkan sekadar menyimak dengan penuh perhatian.

4. Muhibban (Pencinta Ilmu)

Mencintai ilmu dan para ulama juga merupakan bagian dari kebaikan. Cinta kepada ilmu akan mendorong seseorang untuk mendukung, menghormati, dan menjaga keberlangsungan pendidikan.

Siapakah Yang Kelima?

Yang dimaksud yang kelima adalah orang yang tidak peduli terhadap ilmu, tidak mau belajar, tidak mau mendengar, dan bahkan membenci ilmu. Sikap ini berbahaya karena kebodohan dapat menjerumuskan manusia pada kesesatan dan kehancuran.

Ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Tanpa ilmu, seseorang mudah terpengaruh oleh informasi yang salah, hawa nafsu, dan kesesatan.

Relevansi Hadis di Zaman Sekarang

Di era modern yang penuh informasi seperti saat ini, hadis “Kun ‘Āliman” semakin relevan. Teknologi berkembang pesat, namun tanpa ilmu yang benar dan bimbingan agama, kemajuan justru bisa membawa kerusakan.

Bagi lembaga pendidikan, terutama madrasah dan pesantren, hadis ini menjadi landasan penting untuk membangun budaya belajar yang kuat. Setiap siswa diharapkan minimal menjadi muta‘allim (pembelajar), dan kelak tumbuh menjadi ‘alim yang bermanfaat bagi umat.

Hadis “Kun ‘Āliman” mengajarkan bahwa hidup tanpa ilmu adalah kerugian. Setiap Muslim hendaknya memilih satu dari empat posisi mulia: menjadi orang berilmu, penuntut ilmu, pendengar ilmu, atau pencinta ilmu. Semoga kita termasuk golongan yang dekat dengan ilmu dan dijauhkan dari kebodohan yang menyesatkan.

-by.Jagatraya

Posting Komentar

0 Komentar